Rabu, 04 Februari 2009

the way of islamis teaching

The Way Of Islamic Teaching

Posted under Pendidikan by najmu.laila on Sunday 25 January 2009 at 4:29 pm

Sebuah bangsa yang besar terdiri dari manusia-manusia yang bermutu di dalamnya. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu tersebut, diperlukan pendidikan yang dapat mengakomodir seluruh kebutuhan dan perkembangan peserta didik dengan baik. Sebagaimana diketahui bahwa essensi dari pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia, hal ini dapat terwujud dengan sistem pendidikan yang terarah dan tepat guna, salah satunya adalah melalui pendidikan agama islam.

Pendidikan agama Islam merupakan pilar yang penting bagi pengembangan sumber daya manusia karena dengan pendidikan agamalah ditanamkan akhlak dan budi pekerti kepada peserta didik. Melalui pendidikan agama, Sekolah tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan ilmiah jasmaniah tetapi juga memenuhi kebutuhan rohaniah peserta didik, sebuah kebutuhan kodrati yang dimiliki oleh setiap makhluk yang bernyawa.

Kiranya benar ketika ada sebuah adagium bahwa ilmu tanpa iman adalah sebuah bencana. Bahwa seseorang yang mempunyai ilmu tanpa dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT alih menjadi anugrah, ilmu tersebut malah akan menjadi sebuah bencana. Adagium tersebut nyata-nyata telah terbukti. Sebagai pembanding marilah kita tengok sejenak ke belakang di tahun 1940-an, ketika terjadinya Perang Dunia II yang dipicu oleh penemuan bom atom yang notabenenya merupakan sebuah keberhasilan ilmu pengetahuan manusia. Hal tersebut lagi-lagi membuktikan bahwa iman harus menjadi landasan dari setiap perbuatan manusia, termasuk dalam hal pengamalan ilmu pengetahuan.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, logis kiranya kami kemukakan bahwa keimanan selain keilmuan-keilmuan lainnya harus diajarkan pula di sekolah, salah satunya adalah melalui pendidikan agama Islam. Tulisan berikut ini akan mencoba memaparkan secara lebih mendalam mengenai urgensi pemberian pendidikan agama islam di sekolah bagi perkembangan akhlak dan budi pekerti para peserta didik.

Islam dan Pendidikan Islam

Sebagai agama yang kompleks dan menyeluruh, Islam sebenarnya tidak hanya mengajarkan pendidikan agama dalam pengertian sempit (khusus) seperti ritual atau akhlak belaka. Namun, lebih dari itu, Islam juga mengajarkan hubungan dengan sesama manusia walaupun berlainan agama, membina manusia bagaimana sebaiknya menjalankan pemerintah, menganjurkan saling menghormati sesama manusia, dan sebagainya. Sebab, agama Islam sendiri adalah sebuah ajaran hidup yang menyeluruh, yaitu rahmatan lil alamin. Oleh karena itu, pendidikan Islam seharusnya dilakukan dengan kerangka berpikir yang menyeluruh pula. Agenda untuk mengajarkan tentang pentingnya pendidikan agama bagi bangsa Indonesia terutama bagi generasi muda, apakah melalui pendidikan formal maupun non formal sudah sangat mendesak untuk dipikirkan dan dilakukan.

Menurut Islam, tujuan pendidikan tidak hanya sekedar untuk menciptakan

manusia yang siap memasuki dunia kerja, akan tetapi untuk melahirkan seseorang

yang memiliki kedalamn iman, kepekaan nurani, keluasan wawasan, kemandirian jiwa, kepedulian sosial, dan keahlian kreativitas. Tujuan ini tercantum dalam kisah Lukman ketika mendidik putranya sebagaimana tertuang pada firman Allah SWT dalam QS Lukman ayat 13-27. dalam tujuan yang seperti itu, tidak ada lagi dikotomi agama dan ilmu pengetahuan-teknologi, karena agama adalah spirit yang memberi arah kemajuan iptek itu sendiri.

Rasulullah menyadari sekali akan pentingnya menuntut ilmu, sebab beliau memahami betul betapa susah memerintah dan membina masyarakat yang tidak berpendidikan (jahiliyyah). Sehingga turunlah firman Allah SWT dan hadits Rasulullah tentang keutamaan mempelajari suatu ilmu pengetahuan. Firman Allah yang menyatakan akan pentingnya ilmu pengetahuan adalah sebagaimana tertera dalam QS. Al-Ankabut ayat 43 yang artinya “Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali oran-orang yang berilmu”. Sedangkan hadits nabi yang menyatakan akan pentingnya mencari dan mempelajari ilmu adalah: “Siapa yang mempelajari suatu ilmu, dia akan mendapatkan pahala dari orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang tersebut”. (HR. Ibnu Majah). Dan ada juga hadits lain yang menganjurkan kepada setiap manusia agar menuntut ilmu mulai dari kandungan sampai keliang lahat. Hadits itu adalah: tuntutlah ilmu mulai dari dalam kandungan hingga ke liang lahat”.

Dari kedua hadits di atas, Rasulullah menyatakan ilmu secara umum, tidak terbatas hanya pada studi tertentu saja, seperti fiqih, tafsir, kedokteran, matematika, dan sebagainya. Maka, pernyataan seperti itu harus melalui dakwah, media masa, pengajian, dan berbagai forum lainnya. Pelaksanaan pendidikan merupakan tanggung jawab tiga pilar, yaitu: individu dan keluarga, masyarakat, dan negara (pemerintah).

Perputaran zaman yang ditandai dengan masuknya berbagai teknologi modern ke tanah air kita dan meningkatnya persentuhan kita dengan dunia luar, mendatangkan dua dampak sekaligus. Di samping memberikan sumbangan bagi kemajuan lahiriyyah, ia juga memasukkan bibit-bibit negatif yang kalau jika tidak dapat sedini mungkin mengantisipasinya akan sangat berbahaya bagi kelestarian bangsa dan negara kita. Terlebih lagi khususnya bagi generasi muda kita atau anak-anak kita. Maka, adanya kontrol sosial dari masyarakat agar pendidikan dapat berjalan dengan baik dan terbentengi dari pengaruh negatif sangat diperlukan.

Kesinambungan dalam Ajaran Islam

Pendidikan Islam dalam bahasa Arab disebut tarbiyah Islamiyah merupakan hak dan kewajiban dalam setiap insan yang ingin menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “ Tuntutlah ilmu dari buaian sampai akhir hayat.” Maka menuntut ilmu untuk mendidik diri memahami Islam tidak ada istilah berhenti, semaki banyak ilmu yang kita peroleh maka kita bertanggung jawab untuk meneruskan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan berilmu, disinilah letak kesinambungan.

Selain merupakan kewajiban, kegiatan dididik dan mendidik adalah suatu usaha agar dapat memiliki ma’dzirah (alasan) untuk berlepas diri bila kelak diminta pertanggungjawaban di sisi Allah SWT yakni telah dilakukan usaha optimal untuk memperbaiki diri dan mengajak orang lain pada kebenaran sesuai manhaj yang diajarkan Rasulullah SAW. Untuk menghasilkan Pendidikan Islam yang berkesinambungan maka dibutuhkan beberapa sarana, baik yang mendidik maupun yang dididik, yaitu:

1. Istiqomah

Setiap kita harus istiqomah terus belajar dan menggali ilmu Allah, tak ada kata tua dalam belajar, QS. Hud (11) : 112, QS. Al Kahfi (18) : 28

2. Disiplin dalam tanggung jawab

Dalam belajar tentu kita membutuhkan waktu untuk kegiatan tersebut. sekiranya salah satu dari kita tidak hadir, maka akan mengganggu proses belajar. Apabila kita sering bolos sekolah, apakah kita akan mendapatkan ilmu yang maksimal. Kita akan tertinggal dengan teman-teman kita, demikian pula dengan guru, apabila ia sering membolos tentu anak didiknya tidak akan maju karena pelajaran tidak bertambah.

3. Menyuruh memainkan peran dalam pendidikan

Setiap kita dituntut untuk memerankan diri sebagai seorang guru pada saat-saat tertentu, memerankan fungsi mengayomi, saat yang lainnya berperan sebagai teman. Demikiannya semua peran digunakan untuk memaksimalkan kegiatan pendidikan.

Urgensi Pendidikan Agama Islam di Sekolah

Pendidikan merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Tak heran bila kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan.

Pendidikan Islam memiliki 3 (tiga) tahapan kegiatan, yaitu: tilawah (membacakan ayat Allah), tazkiyah (mensucikan jiwa) dan ta’limul kitab wa sunnah (mengajarkan al kitab dan al hikmah). Pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik disebabkan pendidikan mempunyai kelebihan. Pendidikan mempunyai ciri pembentukan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh, pemeliharaan apa yang telah dipelajarinya, pengembangan atas ilmu yang diperolehnya dan agar tetap pada rel syariah. Hasil dari pendidikan Islam akan membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas dan fisik yang kuat serta banyak beramal.

Pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah (pemahaman/pemikiran) dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam ditanamkan dalam individu membutuhkan tahpan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan. (QS. Ali Imran (3) : 103)

Pendidikan yang diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya bersumber kepada Al Qur’an sebagai rujukan dan pendekatan agar dengan tarbiyah akan membentuk masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai Ilah saja. Kehidupan mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Hasil ilmu yang diperolehnya adalah kenikmatan yang besar, yaitu berupa pengetahuan, harga diri, kekuatan dan persatuan. Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah agar manusia memiliki gambaran tentang Islam yang jelas, utuh dan menyeluruh.

Interaksi di dalam diri ini memberi pengaruh kepada penampilan, sikap, tingkah laku dan amalnya sehingga menghasilkan akhlaq yang baik. Akhlaq ini perlu dan harus dilatih melalui latihan membaca dan mengkaji Al Qur’an, sholat malam, shoum (puasa) sunnah, berhubungan kepada keluarga dan masyarakat. Semakin sering ia melakukan latihan, maka semakin banyak amalnya dan semakin mudah ia melakukan kebajikan. Selain itu latihan akan menghantarkan dirinya memiliki kebiasaan yang akhirnya menjadi gaya hidup sehari-hari

Membentengi Peserta Didik dari Pengaruh Negatif

Seberapa parahkah pengaruh era informasi yang mengglobal dewasa mampu menjungkir balikan nilai-nilai masyarakat? Tingkat keparahannya memang sulit diukur secara matematis, namun dampaknya benat-benar sangat terasa di masyarakat.

Oleh karena itu, membuat program antisipatif untuk menanggulanginya adalah langkah strategis yang harus dikerjakan secara teliti, serius, dan konsisten. Allah SWT berfirman dalam al Qur’an surat Al-Hujuraat ayat 6, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa informasi, maka periksalah informasi itu secara teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui kepadanya apa yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu”. Bila ayat itu dituturkan dengan kondisi objektif bangsa kita hari ini, kini, dan di sini, saya kira sangat pas dan manis sekali. Betapa banyak musibah yang terjadi di tanah air kita akhir-akhir ini dan begitu banyak persoalan-persoalan amoral yang menyedot perhatian kita bersama. Perampokan, perjudian, perzinahan, minum-minuman keras, penyalahgunaan obat-obat terlarang seperti narkotika, ekstasi dan sejenisnya seakan menjadi pemandangan yang biasa. Dan kasus-kasus moral itu, sudah semakin dipertontonkan kepada masyarakat kita dan selalu memenuhi halaman pemberitaan baik di media massa, televisi, maupun radio.

Akibat dari itu semua, kemerosotan akhlak generasi muda di tengah masyarakat kita semakin nyata wujudnya. Kita sering kali mendengar pemberitaan orang tua yang memperkosa anak gadis di bawah umur dan bahkan ada yang memperkosa anak kandungnya sendiri. Banyak anak-anak di bawah umur yang telah memahami dan melakukan free sex, bahkan sudah berani mengkonsumsi obat-obat terlarang. Itu semua, sebagian besar penyebabnya menurut saya akibat dari derasnya pengaruh dunia informasi, begitu juga dengan pengaruh gambar-gambar untuk mempromosikan dagangan yang sama sekali tidak pernah dipikirkan dampak negatifnya dan selalu bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama. Arus kemerosotan akhlak yang ditimbulkan oleh apa-apa yang diuraikan tadi perlu ditertibkan. Tentunya, agar semua tatanan kehidupan berjalan sesuai dengan adat kesopanan dan ajaran agama.

Selain itu, kita perlu menghimbau kepada semua komponen masyarakat, khususnya kepada pihak yang berwenang, untuk segera menertibkan produksi-produksi film, baik film yang diimpor maupun produksi dalam negeri. Melalui badan sensor film ini, hendaknya adegan-adegan yang merusak mental bangsa diperketat dan jangan sampai lolos begitu saja. Begitu juga terhadap kalender-kalender dan reklame-reklame yang mempertontonkan wanita-wanita setengah telanjang, hendaknya ditindak dengan tegas dan diberi sanksi yang cukup berat sesuai dengan hukum yang berlaku di negara kita tercinta. Jika hal itu semua tidak segera ditanggulangi, lambat laun Negara atau bangsa kita ini tidak mustahil akan mengalami kehancuran dari dalam.

Jadi, dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan agama sangat penting untuk diberikan kepada para peserta didik di sekolah untuk dapat membentengi para peserta didik dari pengaruh buruk yang merusak akhlak dan budi pekerti.

1 komentar: